Jumat, 28 November 2014

Tugas Bahasa Indonesia "PARAFRASE"


Syair Nyanyian Anak

Dengan kalimat bismillah kami memulai,
Alhamdulillah adalah selawatnya nabi.
Dengan takdir dari Allhurobbi,
Sampailah maksud untuk yang dicinta,

Seorang anak cinta yang telah lama,
Sekarang sudah kami terima.
Seorang anak yang diberi nama,
Kami ayunkan bersama-sama.

Emas dan perak yang kami ayunkan
Anak ditaruh dalam ayunan.
Tali ayunan yang kami pegangkan,
Emas dan perak yang kami nyanyikan.

Dipanggil kami oleh orang sekalian,
Oleh ibu dan bapakmu tuan.
Serta diberi minum dan makan,
Menyertakan rasa syukur kepada tuhan,
Yakni syukur kepada Allah ta’ala.

Karena telah mendapat intan gemala,
Memberi sedekah dengan beberapa pula.
Denagn sekadar ada segala,
Dipanggil sekalian kaum kerabat.

Serta sekalian kepada handai sahabat,
Segala jiran kawan yang berdekat.
Semuanya telah datang denagn selamat,
Jauh dan dekat datang dengan sekalian.

Besar dan kecil kaum laki-laki dan perempuan,
Setengahnya datang ada yang berjalan.
Setengahnya berjalan dengan  erpayung awan,
Ingatlah kamu datang untuk bertalu.

Mengunjungi engkau hilir dan hulu,
Mengayun engkau dengan maksud begitu.
Karena niat dari Ibu dan Bapakmu,
Jika panjang sudah jumlah umurmu.

Jasa dari mereka balas olehmu,
Wahai anakku pikirlah olehmu.
Besarlah hati ibu dan bapakmu,
Ibu dan bapakmu mari kau dengarkan.

Anak diayun yang kami nyanyikan,
Bersama-sama mari kita do’akan.
Harap Allah minta perkenankan,
Harap adapun anak masa kecilnya.

Harum-haruman ibu dan bapaknya,
Hinggalah sampai pada masa umurnya.
Tujuh tahun genap sudah bilangannya,
Tujuh tahun hanya sampai kiraan.

Ketika umur anak muda bangsawan,
Inilah saat anak jadi perhiasan.
Kepada ibu dan bapakmu tuan,
Haraplah sehingga sampai umurnya tuan.

Sepuluh tahun sudah cukup bilangan,
Ketika itu sudah menjadi tulan.
Atau terus akan menjadi lawan,
Demikianlah anak kami khabarkan.

Ibu dan bapakmu minta dipikirkan,
Carilah ilmu janganlah merasa segan.
Memeliharakan anak serta dengan pelajaran,
Jika besar menjadi cahayanya mata.

Ajarkan ilmu dengan agama kita,
Jika ilmu itu tidak ada di kita.
Serahkan kepada alim pendeta,
Demikianlah anak supaya bisa berilmu.

Baik dan jahat akan nyata disitu,
Dengan sebab sedemikian itu.
Jadilah baik dengan sebarang laku,
Jikalau tidak maka demikian peri.

Tentulah anak jadi tidak mengerti,
Jadilah anak buta dan tuli.
Menjadi Baik dan jahat sama sekali,
Jika anak tiada diberi pelajaran.

Halal dan haram diserupakan,
Bersifat salah seperti tidak berpengetahuan.
Akhirnya anak akan menjadi lawan,
Jika anak melawan sudahlah pasti.

Ibu dan bapak tidak ada peduli,
Sebab tidak pernah  kita ajari.
Dunia dan akhirat kita nan rugi,
Betapa tidak rugi jika demikian.

Dari kecilnya telah kita peliharakan,
Beberapa belanja harta telah dihabiskan.
Sudahlah besar kelak menjadi lawan,
Di dalam dunia demikianlah peri.

Di akhirat kelak azab diterima lagi,
Pelajaran ada yang tidak peduli.
Anak selalu dibiarkan bersuka hati,
Nyata kerugian pada ibu dan bapak.

Karena tidak pernah mengajarkan anak,
Sebab itu maka janganlah tidak.
Ikhtiarkan dengan sungguh pelajaran anak,
Dengan sebenarnya tentang peljaran itu.

Bolehlah baik tingkah dan laku,
Jadilah anak orang yang nomor satu.
Dunia akhirat boleh saja membantu,
Anak demikian jikalau didapat.

Laksana penyakit yang menjadi obat,
Demikianlah tuan menjadi mula ibarat.
Maklumlah tuan karena makrifat,
Ayuhai ibu ayuhai ayah.

Demikiana nasihat yang kami serentakan,
Harap perkenan janganlah menjadi tidak.
Mudahlah sampai barang yang menjadi kehendak,
Sehingga itu berhati sudah.

Mengayun anak nazam ditambah,
Berharap selamat berhati sudah.
Supaya ibumu janganlah menjadi gundah,
Wahai anakku segeralah engkau tidur.

Lekaslah tumbuh besar supaya masyur,
Jika anakkua tidaklah engkau tidur.
Ibu dan bapakmu menjadi hibur,
Ayuhai anak teringat olehmu.

Harap dibalas semua jasa ibumu,
Seperti pula halnya jasa bapakmu.
Kemudian pula juga handai sahabatmu,
Sehingga itu akan berarti mudah.

Mengayun anak nazam ditambah,
Nazam yang dimulai dengan bismillah.
Disudahi pula dengan akhiran alhamdulillah,
Ya Allah kholikul bakhri.

Beri petunjuk sekalian kepada kami,
Iman dan taat yang jadikan kami,
Maka dunia akhirat minta disegani.

Kamis, 27 November 2014

Tugas Bahasa Indonesia "BIOGRAFI TOKOH"

Biografi Mohammad Hatta
Siapa yang tidak mengenal salah satu pahlawan atau tokoh Proklamator Indonesia ini. Sangat bersahaja dan sederhana hingga akhir hayatnya ini itulah sosok Mohammad Hatta yang lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.
Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.

Masa Studi di Negeri Belanda
Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.
Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul "Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen"--Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif. Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.
Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama "Indonesia", Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, "Indonesia" secara resmi diakui oleh kongres. Nama "Indonesia" untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional. Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu.
Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi "Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan" di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L 'Indonesie et son Probleme de I' Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan). Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama "Indonesia Vrij", dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka. Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Kembali ke Tanah Air
Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya. Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul "Soekarno Ditahan" (10 Agustus 1933), "Tragedi Soekarno" (30 Nopember 1933), dan "Sikap Pemimpin" (10 Desember 1933).
Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.

Masa Pembuangan
Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.
Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, "Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan" dan "Alam Pikiran Yunani." (empat jilid).
Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.

Kembali Ke Jawa: Masa Pendudukan Jepang
Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.
Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali."

Proklamasi
Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti. Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh.
Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta. Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.

Periode Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda. Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.
Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata. Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana. Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.

Periode Tahun 1950-1956
Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).
Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya.
Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”. Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”.
Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu. Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.
Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara. Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.


Cerpen Kewirausahaan 2

 BERAWAL DARI KESABARAN

Panggilan akrabnya Ado, nama lengkapnya Andri Aryansah, seorang lelaki yang hanya mengecap pendidikan SD ini berhasil menjadi usahawan sukses dengan omzet per bulan mencapai Rp 100 juta.

Semuanya dilalui dengan tidak menyenangkan. Ia masih ingat bagaimana harus sering memakai sandal jepit untuk sekolah jika musim hujan, sebab sepatu Ado hanya satu. Jika basah ia tak punya sepatu pengganti dan terpaksa mengenakan sandal.

Ia juga masih ingat dengan lekat bagaimana rasanya berjalan kaki ketika ke sekolah dan bermain, sementara teman-temannya bergembira naik sepeda. Itulah sedikit pengalaman pahitnya di masa kecil, dari sekian banyak pengalaman pahit yang dirasakannya. Kesedihan Ado berujung ketika ia lulus SD pada 1999.

Bapaknya yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan tak mampu membiayai lagi sekolahnya. Dengan terpaksa dia tidak melanjutkan jenjang SMP. Dua tahun kemudian, ia meninggalkan kota kelahirannya Garut menuju Bandung untuk mengadu nasib.

Alasannya dia tak mau merepotkan orangtuanya. Pekerjaan pertamanya di Bandung bukanlah pekerjaan yang membanggakan bagi seorang remaja sepertinya. Ia menjadi pembantu rumah tangga (PRT) di daerah Dipati Ukur, Bandung. Pekerjaan itu dia lalui selama tiga tahun. Pada 2004 Ado “naik pangkat” dengan bekerja di Record Man, sebuah toko pakaian yang identik dengan musik cadas.

Kejujuran dan kerja kerasnya membuat Ado dipromosikan hingga menjadi manajer toko tersebut. Setelah bekerja di Record Man selama 7 tahun, Ado memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja. “Saya sih tidak mau terus-terusan kerja pada orang. Ingin punya usaha sendiri. Lagipula saya sudah punya pengalaman di bidang pakaian, jadi tahu seluk-beluk bisnisnya,” kata Aldo.

Bermodal tabungan sebesar Rp 2,5 juta ia mulai menyewa los di Plaza Parahyangan berukuran 3×3 dengan biaya sewa Rp 1,4 juta. Meski baru pertama menjalankan usaha, Ado mengaku yakin bahwa dia akan berhasil. Meski modal uangnya sedikit, Ado memiliki modal lain yang lebih penting dari uang yaitu pengalaman dan jaringan. Ia punya pengalaman selama 7 tahun di industri ini dan ia punya jaringan pemasok maupun pelanggan. Ado menggandeng teman-temannya musisi musik metal untuk dibuatkan merchandise.

Ado merupakan seorang pengemar musik cadas. Usaha merchandise tersebut ternyata membawa berkah bagi dirinya. Dalam waktu relatif singkat usahanya menanjak. Sebagai pengusaha, Ado belajar melihat tren di pasaran. Ketika persaingan di bisnis merchandise band mulai ketat, Ado mencari ide lain. Dia pun kemudian melakukan diversifikasi desain kaos dengan membuat desain-desain bergaya Sunda.

Tapi kaos bergaya metal tetap dia jalankan. Kejelian melihat peluang inilah yang membuat Ado bisa bertahan hingga sekarang. Perlahan tapi pasti, usahanya terus berkembang. Omzet yang awalnya jutaan berkembang menjadi belasan dan puluhan juta rupiah.

Dan sekarang menurut Ado angkanya sudah menyentuh Rp 100 juta per bulan. Meski usahanya sudah maju dan omzetnya menggelembung, tapi Ado mengaku tetap hidup sederhana. Pengalaman di masa lalu mengajarinya untuk hidup sederhana. Kesabaran dan keuletan Ado terbayar sekarang ini.

Rabu, 26 November 2014

Cerpen Kewirausahaan 1


BERAWAL DARI GAMBAR
              Disebuah desa terpencil, hiduplah seorang wanita dengan ibunya yang wajahnya sudah keriput. Wanita itu adalah satu-satunya harta yang paling berharga didalam hidup sang ibu. Ketika mereka berdua hidup tanpa kepala keluarga yang menjamin semua hidupnya, sang wanita tampak berusaha untuk melangkahkan kakinya ketempat yang belum pernah ia kunjungi. Sang wanita dengan berani ketempat yang belum pernah ia kunjungi hanya untuk mencari usaha yang layak dijadikan sebagai mata pencaharian di keluarganya. Ia berjalan hanya sendirinya tanpa ada yang menemani, karena sang ibu usianya kini tidak mampu untuk berjalan jauh menemaninya. Sang wanita sangat menyayangi ibunya dan nekat untuk berusaha mencari usaha, walaupun banyak rintangan yang harus ia lalui sebelum mendapatkan hasil yang memusakan.
                Selang waktu, sang wanita yang kini terus berusaha mencari usaha akhirnya mendapat satu usaha yang lumayan membuahkan hasil. Usaha yang akan ia jalani yaitu usaha mendesain busana, karena salah satu bakat yang wanita miliki hanyalah menggambar model-model busana walaupun sebelumnya sang wanita tidak memiliki guru pembimbing yang bisa membimbing langkahnya untuk mendesain busana, tapi dari hasil bakat yang ia miliki dan kelola sendiri tanpa bentuan orang lain, sang wanita mampu menggambar desain busana yang unik, indah dan gambarnya layak untuk dijadikan contoh desain busana. Baik itu busana yang biasa sampai busana yang luar biasa.
                Dengan nekat, sang wanita berusaha mencari pekerjaan terlebih dahulu untuk mendapatkan uang agar bisa digunakan sebagai modal usaha yang kelak ia kelola. Sang wanita tidak ingin mempersulit keluarganya terutama sang ibu, maka ia nekat untuk bekerja sebagai apapun yang halal untuk mendapatkan uang agar dapat membuka usaha desain busana kelak waktu. Karena usaha sebagai desainer busana terkenal adalah impian sang wanita sejak ia masih kecil sekitar umur 7 tahun. Maka dari itu ia berusaha agar impiannya dapat terwujud.
                Sang wanita kini bekerja sebagai pelayan disalah satu restaurant yang terkenal, gajinya lumayan untuk ditabung agar dapat mendirikan sebuah usaha desainer busana. Di restaurant, sang wanita bertemu dengan seorang desainer terkenal di negaranya. Sang desainer terkenal itu melihat sang wanita sedang menggambar ketika sang wanita selesai dengan tugasnya sebagai pelayan restauran. Desainer terkenal itu tampak kagum dengan gambar yang telah digambar oleh sang wanita. Dengan tanpa ada rasa canggung, sang desainer terkenal itu berkenalan dan mengajak sang wanita untuk bekerja sama di perusahaan sang desainer terkenal itu. Tampak sang wanita mengeluarkan ekspressi wajah yang sangat kaget. Sang wanita hanya dapat berdiam dan melihat sang desainer terkenal itu, ketika itu pula sang wanita menerima tawaran sang desainer terkenal itu. Karena dengan menerima tawaran sang desainer, ia mampu mewujudkan impiannya secara perlahan-lahan.
                Dua hari setelah berkonsultasi dengan sang desainer terkenal itu, sang wanita sekarang mampu menciptakan lima buah busana yang unik dan cantik dan pantas untuk di jual bahkan di pamerkan di pameran manapun. Sang desainer terkenalpun kaget melihat sang wanita mampu mengambil perhatiannya dengan menciptakan lima buah busana yang cukup sulit di ciptakan dengan sendirinya. Maka dari itu sang desainer mengangkat sang wanita sebagai direktur utama diperusahaan busananya itu. Dengan tidak ada rasa canggung sang wanita menerima tawaran tersebut dan sangat bersyukur dengan bakatnya itu dan dengan impian serta dengan usaha yang telah ia raih selama itu.
                Setelah menjadi direktur utama di perusahaan itu, sang wanita sekarang di gemari dan dikenal di berbagai desainer manapun bahkan terkenal di para selebriti serta pejabat. Saat itu, banyak yang ingin menggunakan busana ciptaan sang wanita ketika ada acara seperti pernikahan serta acara lainnya. Karena ciptaan sang wanita sangat dipandang istimewa bahkan dipandang sangat luar biasa oleh para pengunjung dan langganan perusahaan itu. Dengan begitu sang wanita yang dulu hidup di desa terpencil itu, kini menjadi desainer yang sangat terkenal di seluruh pelosok dunia. Sang wanita melewati dan menginjak beberapa Negara karena hanya bakatnya itu dan karena hanya impiannya itu sebagai desainer, ia dapat mengalahkan atasannya yang dulu mengngkatnya sebagai direktur utama di perusahaannya. Tapi atasannya itu sangat bangga mempunyai sang wanita yang mampu membangkitkan perusahannya dengan bakatnya itu.
                Kini sang wanita mampu membiayai ibunya yang berada di desa, dan membangun desanya menjadi lebih indah dengan hasil jerih upayanya. Sang ibu bangga melihat anaknya bisa sesukses itu. Sang wanitapun bangga karena mempunyai ibu yang sangat mengerti, penyayang, yang selalu mendorong dan mendoakan sang wanita sehingga sekarang menjadi desainer terkenal didunia.
                Tak ada yang menduga rencana tuhan selain tuhan. Dan tak akan berjalan lancar perjalanan hidup tanpa doa dan izin orang tua. Sang wanita itu sekarang mampu membangun perusahaan sendiri dan membangun kehidupan yang bahagia bersama ibunya.